PKT (Pengelolaan Kesehatan Tanaman) Sistemik

 TUGAS PHPT 

MATERI PKT SECARA SISTEMIK 

BUDIDAYA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.)




Vira Ayu Kinanti         18025010159


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

SURABAYA

2020 

Dalam langkah – langkah sistematis pelaksanaan PKT ada 3 hal yaitu Persiapan, Pelaksanaan, dan Evaluasi.

1. Persiapan

     a) Analisa Usaha Tani Bawang Merah 

         Salah satu mata dagangan penting bagi sebagian besar ekonomi rumah tangga Indonesia yang selalu mengalami fluktuasi harga yang relatif tinggi adalah produk pertanian tanaman pangan holtikultura sayur-sayuran, rempah-rempah yaitu bawang merang (Allium ascolanium L). Bawang merah merupakan tanaman semusim (Tanaman setahun), yang dimanfaatkan adalah umbinya yang berlapis-lapis yang sebenarnya merupakan pangkal daun yang bagian atasnya berbentuk silinder dan dari pangkal daun sampai bagian yang ada akarnya berubah bentuk dan membengkak menjadi umbi yang berlapis-lapis. 


b) Kendala Usaha Tani Bawang Merah 
    
    Produktivitas petani masih rendah karena umumnya mereka tidak mampu membeli bibit yang baik (unggul). Kelemahan lainnya adalah lemahnya penguasaan teknis budidaya. Oleh karena itu kendala teknis di tingkat petani ini diharapkan dapat diatasi dengan bimbingan teknis yang berkesinambungan dari perusahaan. 

2. Pelaksanaan 

1.      Persiapan Benih 

Kualitas benih merupakan salah satu faktor penentu hasil tanaman. Bawang merah yang digunakan sebagai benih harus cukup tua. Umur benih yang paling bagus yaitu benih yang telah disimpan selama 30-40 hari. Petani responden umumnya menggunakan benih yang dibeli dari pasar. Kegiatan persiapan benih biasanya dilakukan sehari sebelum melakukan penanaman.

Persiapan benih meliputi kegiatan pembersihan dan pengirisan ujung umbi bawang merah. Pengirisan ujung umbi bawang merah ini dilakukan dengan tujuan agar umbi cepat tumbuh dan memiliki anakan yang banyak, sehingga akan diperoleh hasil yang optimal. Petani juga mencampur benih bawang merah dengan fungisida supaya benih tidak busuk ketika ditanam. Kegiatan persiapan benih ini biasanya dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga. Apabila jumlah benih yang akan digunakan banyak, maka persiapan benih dilakukan beberapa hari sebelumnya dengan cara mencicilnya.

2.      Pengolahan Lahan 

Pengolahan lahan dilakukan untuk menciptakan kondisi tanah seperti yang diinginkan tanaman bawang merah, yaitu tanah yang gembur dan subur untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bawang merah. Kegiatan awal adalah membersihkan lahan dari rumput dengan menggunakan herbisida. Pengolahan lahan dilakukan melalui empat tahapan, yaitu: penaikkan tanah, pembalikan tanah, pembuatan bedengan dan parit, serta penggemburan. Setelah empat tahapan pengolahan tanah ini selesai, maka bedengan tersebut diistirahatkan selama tujuh hari kemudian lahan siap untuk ditanami bawang merah.

3.      Penanaman 

Penanaman biasanya dilakukan oleh tenaga kerja wanita, sedangkan tenaga kerja lakilaki hanya bertugas membawa benih ke lahan yang akan ditanami. Penanaman di Kabupaten Majalengka dilakukan dengan terlebih dahulu membuat lubang, kemudian dibuat lubang tanam yang terlebih dahulu diberi pupuk dasar. Pupuk dasar ini biasanya terdiri dari pupuk kandang dan pupuk TSP.

Setelah diberi pupuk dasar kemudian tanah didiamkan dulu selama ± satu hari setelah itu baru ditanami. Biasanya para petani responden melakukan penanaman pada pagi hari atau sore hari untuk mengurangi penguapan. Jarak tanam yang digunakan di lokasi penelitian adalah 15 x 20 cm dan 20 x 20 cm dengan lebar bedengan 110-120 cm dan ketinggian bedengan 50-60 cm. Apabila kondisi tanah terlalu berair maka bedengan dibuat lebih tinggi. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kondisi tanah agar tidak terlalu basah karena apabila tanah terlalu basah maka tanaman bawang merah akan rentan terkena busuk umbi. 

Teknik penanaman bawang merah di lokasi penelitian dilakukan dengan membenamkan bawang merah ke dalam lubang yang sebelumnya telah dibuat. Bawang merah dibenamkan sampai ujungnya rata dengan permukaan tanah, dengan kedalaman tiga per empat bagian dengan bagian dari mata tunas tidak tertutup tanah dan menghadap ke atas.

4.      Penyulaman 

Penyulaman dilakukan ketika tanaman berumur ± 15 HST (hari setelah tanam). Pada umur tersebut biasanya sudah terlihat benih yang tumbuh atau tidak, sehingga untuk benih yang tidak tumbuh dapat diganti dengan benih baru. Pada umumnya petani responden memperoleh benih dengan hasil membeli di pasar, dimana umur benih tersebut berbeda-beda. Kondisi tersebut menyebabkan benih yang tidak tumbuh relatif lebih banyak, sehingga memerlukan adanya proses penyulaman. 

5.      Penyiangan  

Proses penyiangan dilakukan untuk membersihkan lahan dari gulma-gulma yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman bawang merah, karena terjadi persaingan dalam memperoleh unsur hara. Penyiangan pada umumnya hanya dilakukan satu kali selama satu musim tanam yaitu ketika tanaman berumur 30 hari. Hal tersebut karena ketika benih berumur tiga hari atau sebelum benih ditanam telah dilakukan penyemprotan dengan menggunakan herbisida, sehingga sampai umur 30 hari gulma-gulma tidak akan tumbuh. 

6.      Penyiraman 

Tanaman bawang merah tidak memerlukan banyak air karena umbi bawang merah mudah busuk, akan tetapi selama pertumbuhannya tanaman bawang merah membutuhkan air yang cukup. Oleh karena itu, tanaman bawang merah memerlukan penyiraman secara intensif apalagi karena penanaman bawang merah terletak di lahan bekas padi.  Kegiatan penyiraman menyesuaikan kondisi musim tanam yang dilakukan oleh petani responden. Jika petani responden menanam pada musim hujan maka frekuensi penyiraman tidak dilakukan sesering pada musim kemarau. Pada musi kemarau penyiraman dilakukan setiap hari sampai tanaman bawang merah tumbuh.

Hal tersebut karena pada musim kemarau tanaman bawang merah memerlukan penyiraman yang cukup. Setelah tanaman tumbuh, frekuensi penyiraman dikurangi hingga dua hari sekali atau tiga hari sekali dan menjelang panen frekuensi penyiraman semakin dikurangi. Hal tersebut bertujuan agar tanaman umbi bawang merah yang dihasilkan tidak terlalu berair, karena akan menyebabkan cepat busuk. Selain itu, pengurangan frekuensi penyiraman juga bertujuan untuk mempercepat proses pengeringan selama penjemuran. 

7.      Pemupukan 

Pemupukan merupakan kegiatan dalam usahatani yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan zat hara bagi tanaman yang kurang tersedia di dalam tanah. Petani responden melakukan pemupukan sebanyak 3-4 kali selama satu musim tanam. Apabila melihat kondisi di lapang bagus, tak jarang petani melakukan pemupukan lebih dari empat kali dengan tujuan agar memperoleh hasil yang maksimal.

Hal tersebut yang menyebabkan penggunaan pupuk di Kabupaten Majalengka termasuk tinggi.  Pemupukan pertama dilakukan pada saat tanaman bawang merah mencapai umur 15 hari setelah tanam. Pemupukan kedua dilakukan pada saat 30 hari setelah tanam. Pemupukan ketiga dilakukan pada saat umur 45 hari setelah tanam dan pemupukan keempat dilakukan pada saat umur 60 hari setelah tanam. Cara pemupukan dilakukan dengan mencampurkan setiap kombinasi berbagai jenis pupuk kemudian pupuk ditaburkan diantara barisan bawang merah. 

8.      Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman (HPT)

Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman bawang merah di Kabupaten Majalengka dilakukan untuk mengurangi kerugian akibat adanya serangan hama dan penyakit. Aktivitas ini disesuaikan dengan kondisi hama dan penyakit yang menyerang lahan pertanian. Pengendalian hama dan penyakit di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan pestisida kimia.

Hama penyakit yang sering menyerang tanaman bawang merah antara lain ulat bawang (ulat grayak) yang ditandai dengan bercak putih transparan pada daun, ulat tanah (petani mengenalnya dengan nama ulat hitam karena ulat ini berwarna coklat-hitam), hama trip yang ditandai dengan adanya bercak putih beralur pada daun, hama cikrak (memanjangnya daun sehingga umbi kecil) dan busuk daun. 

9.      Panen dan Pascapanen

Kegiatan pemanenan meliputi aktivitas pencabutan, pembersihan umbi (mutik), dan pengangkutan hasil dari lahan ke rumah pemilik. Kegiatan pencabutan dilakukan oleh tenaga kerja laki-laki dan pembersihan umbi (mutik) dilakukan oleh tenaga kerja wanita. Selain melakukan kegiatan pencabutan, tenaga kerja laki-laki juga mengangkut hasil panen ke rumah pemilik.

Panen dilakukan setelah umbi berukuran besar dan siap dipanen, yaitu pada umur tanaman 55-65 hari. Umur panen pada musim hujan antara 50-55 hari sedangkan pada musim kemarau 60-65 hari. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut umbi bawang merah secara perlahan dari dalam tanah. Setelah dicabut kemudian bawang merah tersebut diikat sebanyak ± 10 rumpun per ikat dan dikumpulkan di satu tempat untuk mempermudah pengangkutan.

Kegiatan pasca panen yang dilakukan adalah penjemuran, pengikatan bawang yang telah kering dan pemotongan daun-daun yang terdapat pada bawang (meres). Kegiatan penjemuran biasanya dilakukan oleh tenaga kerja keluarga. Kegiatan penjemuran dilakukan di bawah terik matahari selama ± satu minggu. 

3. Evaluasi 

    Dalam langkah – langkah pelaksanaan PKT (Pengelolaan Kesehatan Tanaman) pada Budidaya Tanaman Bawang Merah ini akan dilakukannya kegiatan Evaluasi. Hal ini guna untuk mengevaluasi data yang diperoleh apakah data yang diperoleh tersebut sudah sesuai dengan rencana awal dan budidaya tanaman tersebut dengan cara sehat. 








a


Comments